Senin, 05 April 2010

Biomaterial (Kedokteran Abad Nano)

Penggunaan material asing di dalam tubuh manusia bukan hal baru. Material asing itu berguna untuk membantu menjalankan beberapa fungsi tertentu organ tubuh. Istilah cangkok tulang � misalnya kalau tulang kaki Anda ratak karena kecelakaan atau yang lebih sederhana, lensa kontak mata, adalah contoh paling dekat dari penggunaan material asing. Contoh paling gres adalah penggunaan material logam (paduan NiTi) sebagai jaring-jaring kawat pembuka saluran darah.

Alat ini dikenal sebgagi peranti stent bagi para pasien penyakit jantung yang pembuluh darahnya tersumbat jaringan lemak. Alat stent ini terbuat dari logam (karena diperlukan sifat keuletan dan kekuatannya) dalam bentuk semacam pipa yang bekerja sebagai penguat saluran darah alami dalam menahan beban jaringan lemak disekitarnya. Agak jerih rasanya kalau kita membayangkan adanya sepotong jaring-jaring logam di dalam pembuluh darah arteri kita � biasanya cukup dekat lokasinya dengan organ jantung kita. Tapi begitulah pesatnya kemajuan teknologi dan penggunaan biomaterial kita di dunia kedokteran sekarang ini dalam rangka menyembuhkan manusia dari masalah-masalah jasmaninya.

Penggunaan bomaterial � yang didefinisikan sebagai material buatan manusia yang didesain khusus untuk berinteraksi dsan berintegrasi dengan sistem biologi manusia � semakin lama akan semakin canggih. Jangan pula kaget, alat tersebut semakin mendekati fungsi dan cara kerja jaringan biologi alami. Para ahli nanoteknologi dan rekayasa molekuler sekarang ini mulai mengerti mekanisme kerja jaringan tubuh pada level strukturalnya yang paling mendasar � molekul dan atom-atomnya. Ini memungkinkan mereka meniru dan membuat jaringan kulit artifisial. Biometerial juga akan semakin pintar. Mereka akan bisa mendeteksi adanya sel tertentu dan mengubah responnya secara khusus terhadap sel tersebut. Ini akan sangat bermanfaat untuk pemberantasan sel penyakit kanker. Teknik ini akan makin banyak dikenal dari dunia kedokteran sebagai targetted chemotherapy, atay sederhananya terapi kimia yang tidak hantam kromo.

Mendiang ayah saya menghembuskan nafas terakhir setelah hampir setengah tahun memerangi sel-sel kanker. Hanya sebagian kecil jaringan liver yang masih baik, yang ketika itu membuatnya masih tetap bertahan dan berjuang memerangi penyakit. Tapi, sayang, terapi kimia yang dijalani penderita kanker, selain membunuh sel-sel penyebab penyakit kanker, juga merusak jauh lebih banyak lagi sel-sel tubuh yang baik di sekitar sel-sel kanker tersebut. Itu sebabnya, sampai saat ini umumnya penderita kanker yang diterapi kimia akam mengalami penurunan secara drastis kkondisi/stamini tubuhnya. Kondisi tubuh Ayah menurun drastis sampai akhirnya beliau masuk dalam keadaan koma sampai akhir hayat.

Terapi kimia hantam kromo ini akan berubah ketika para periset biomatrial bisa �membungkus� zat kimia pembunuh sel-sel kanker dengan sebuah jaringan biomaterial pintar yang hanya akan luruh ketika bersentuhan dengan sel-sel kanker dengan sebuah jaringan biomaterial pintar yang hanya akan luruh ketika bersentuhan dengan sel-sel kanker, yang kemudian memungkinkan terbunuhnya sel-sel kanker tersebut, tapi tidak sel-sel yang baik disekitarnya. Sel-sel tubuh yang baik dengan desain biomaterial terapi kimia terseleksi ini akan terlindungi dari racun pembunuh sel kanker.

Kunci penggunaan biometerial ini adalah pertemuan (interface) antara permukaan (surface) biomaterial dan permukaan jaringan tubuh alami kita. Para ahli juga menyadari bahwa ternyata sebagian besar repons biologis dari jaringan tubuh terhadap adanya materail asing disekitanya hanya ditentukan oleh karakteristik permukaan dari material asing tersebut, dan bagaimana pertemuannya dengan jaringan biologi alami. Inilah salah satu sebabnya bidang biomaterial ini banyak mendapatkan kontribusi dari para ahli rakayasa material. Para periset dan pengembangh dibidang ini punya keahlian untuk memanipulasi sifat permukaaan sebuah material (surface properties) terpisah dari sifat badannya (bulk properties).

Mengambil contoh dari rekayasa material teknik yang labih klasik, kondisi kerja turbin mesin jet pesawat terbang, misalnya, mengharuskan permukaan komponen turbin yang keras dan tidak mudah haus. Pada saat bersamaan, bdan komponen turbin ini harus ulet dan tahan beban dinamik. Dua kelompok sifat materia ini sebenarnya bertolak belakang secara prinsip, tapi dengan manipulasi struktur atom-atom dari permukaan komponen turbin ini terpisah dari struktur atom badan, kita ternyata bisa punya kedua-dua karakteristik material yang diinginkan.

Prinsip rakayasa material ini banyak diterapkan untuk aplikasi peranti kedokteran. Nanoteknologi juga baru-baru ini memberikan solusi elegan dalam dunia rekayasa permukaan material. Perusahaan nanoteknologi terkemuka Nanosys, yang bermarkas di Palo Alto, tak jauh dari rumah kampus tempat kami tinggal, menemukan bahwa metal dengan permukaan yang ditumbuhi oleh nanwires mkolekul-molekul tertentu dapat dibuat untuk memiliki sigat dari mulai yang sangat takut air sampai yang super ramah dengan air. Hal ini signifikan karena selama ini untuk mengubah karakteristik permukaan metal secara drastis sangat sulit. Permukaan metal yang anti-airt tentunya akan sangat berguna, karena ingat saja: metal + air = masalah korosi.

Sejauh ini, aplikasi biomaterial yang kita bicarakan terbatas pada rekayasa/modifikasi meterial artifisial. Tapi mungkin tidak akan terlalu lama lagi aplikasi rekayasa biomaterial yang paling menjanjukan adalah tissue engineering � pengembangbiakan aringan tubuh. Ide dasarnya sangat sederhana. Pada awalnya, bayi di kandungan ibu adalah sebuah sel jaringan tapi dari sepotong sel yang sama ini tumbuh berbagai organ tubuh (tulang, otot, jaringan liver, sampai rambut dan kuku jari). Alamlah yang melakukan proses natural rekayasa jaringan tubuh.

Nah sekarang bayangkan jika manusai sudah menguasai rahasia biologi tubuh manusia sampai ke strutur paling mendasar. Bukan tidak mungkin, manusai mampu merekayasa jaringan tertentu dari tubuh. Inilah konsep yang terenal melalui sebutan stem cell research (riset sel induk � sel pemula kehidupan manusia).

Banyak kintroversi tentunya disekitar konsep baru ini, mulai secara filosofi (manusai memainkan peran Tuhan), etika (mirip dengan jual beli organ tubu manusia), sampai aspek hukum (menggunakan sel induk itu pada dasarnya adalah membunih salon mahkluk hidup/manusia, itu tindak kriminal?). Tapi jangan lupa pada sisi baiknya. Bahwa jaringan liver yang gagal katerna kanker, misalnya, bisa digantikan oleh jaringan liver yang baru. Lantaran pada dasarnya jaringan baru ini berasal dari stem cell yang sama dari orang tersebut, maka secara teoritis, sistem internal tubuh tidak akan menganggap jaringan baru ini sebagai benda asing, sehingga tidak akan menyebabkan komplikasi medikal yang berbahaya.

Dan mengingat kegagalan jaringan adalah sebab dasar sebgaian besar angka kematian manusia (mulai paru-paru yang dirusak tembakau, pembuluh darah arteri yang erlalu berat menahan beban lemak, sampai degradasi sel-sel otak seperti pada penyakit orang tua pikun (parkinsons disease dan alzheimers), bisa kita bayangkan dampak positif yang besar dan mendasar sekali dari rekayasa jarngan stem cell ini untuk kehidupan manusia dan kehidupan masyarakat.

Abad yang baru ini adalah abad biologi. Kemajuan iptek di empat bidang, secara khusus, akan mengubah wajah manusia dan peradaban manusia di akhir abad ke-21 ini � infotek, biotek, nanoteknologi, dan ilmu jaringan otak. Revolusi teknologi informasi sudah bukan barang asing lagi. Revolusai bioteknologi diawali dengan selesainya proyek human genkome, yang memberikan kita bukan hanya program binari (0 dan 1 seperti pada teknologi informasi/komputer), tapi kode genetika berbasis 4 (A,T, C dan G) sebagai balok-balok lego pembangunan kehidupan manusia.

Revolusi nenoteknologi akan memungkinkan manusia merekayasa apa pun pada level atomik atau molekuler; biomateria! Dan revolusi di neural networks pada gilirannya akan memungkinkan manusia mengarakterisasi, tidak hanya sistem biologis, melainkan juga sistem psikologis/pikiran/kejiwaan/inteligensia. Kemajuan masing-masing bidang iptek ini akan mempercepat revolusi di bidang lain. Sebagai contoh: otak manusia tidak bisa menghitung secepat dan seefisien komputer, tapi otak manusia jauh lebih superior dalam mengenali wajah sesama manusia (umumnya kita perlu kurang dari satu detik saja untuk mengenali wajah teman kita di tengah kerumunan orang banyak di shopping mall, misalnya).

Jika kita berhasil mengetahui bagaimana cara kerja jaringan sel-sel otak manusia dalam proses mengenali wajah ini, misalnya, kita bisa menggunakan algoritma yang sama supaya mobil Anda bisa mengenali Anda dan membukakan pintu buat Anda, atau supaya mesin ATM mengetahui bahwa yang membuka account bank Anda adalah Anda sendiri, bukan orang lain yang bermaksud jahat! Semoga generasi muda Indonesia bisa semakin menyadari pentingnya penguasaan iptek. Terutama iptek biologi diabad yang baru ini. Selain untuk kepentingan umat manusia, juga untuk survivla bangsa Indonesia di kompetisi antar-bangsa di dunia di masa yang akan datang. (nurcahyo)

sumber :

Minggu, 14 Maret 2010

Pengembangan Biomaterial Untuk Kemajuan Teknologi Kesehatan Nasional

“Sejak tahun 2003, Pusat Teknologi Material (PTM) BPPT telah melakukan pengembangan biomaterial untuk aplikasi kesehatan. Kegiatan yang dilakukan antara lain, melakukan uji toksisitas dan biokompatibilitas hidroksiapatit (HA) berbahan dasar mineral alam (batu gamping dan koral) untuk bone filler (pengisi tulang), melakukan desain dan pembuatan komponen pelat implan berbasis stainless steel sebagai bone substitute (pengganti tulang), serta melakukan desain proses pembuatan semen tulang Polymethylmethacrylate (PMMA) untuk tujuan bone cement (semen tulang)”, demikian dikatakan Dwi Gustiono Chief Engineer Biomaterial, Pusat Teknologi Material BPPT saat wawancara di ruang kerjanya, Jumat (5/2).

HA, merupakan suatu kalsium fosfat yang banyak digunakan sebagai material pengganti tulang karena kemiripannya dengan struktur kimia tulang dan jaringan keras pada mamalia. Material ini dapat mendorong pertumbuhan tulang baru, serta mempercepat proses penyatuan tulang. “Mahalnya bahan dasar bone filler impor yang berupa serbuk kalsium dan fosfat, membuat PTM BPPT berinisiatif untuk mengembangkan bahan dasar HA dari bahan baku lokal yaitu gamping. Dari uji toksisitas yang dilakukan, ditemukan bahwa HA yang dihasilkan tidak menimbulkan racun sehingga aman untuk digunakan. Selain itu dari uji biokompatibilitas, dapat diketahui juga bahwa HA ini mampu berinteraksi dengan jaringan tubuh makhluk hidup dengan baik”, kata Dwi.

“PTM juga mengembangkan bone filler yang mempunyai kandungan obat didalamnya. Jadi dengan memasukan bone filler tersebut ke dalam tulang, maka obat dapat mengalir langsung ke tulang yang berpenyakit sehingga hasilnya akan lebih cepat terasa”, tambahnya.

Selain HA untuk bone filler menurut Dwi, sejak tahun 2007 PTM BPPT juga mengembangkan Polymethylmethacrylate (PMMA)/bone cement polimer untuk mengisi celah-celah persendian buatan dalam proses implantasi sendi putar. “Kami menggunakan teknologi reverse engineering, yakni meneliti komposisi bone cement komersil yang dipasarkan di luar negeri, untuk kemudian dilakukan studi literaturnya yang hasilnya kita gunakan untuk mengembangkan PMMA ini”.

Lebih jauh Dwi menjelaskan, PMMA yang dihasilkan BPPT memiliki sifat-sifat tidak jauh dari produk komersil yang sudah ada. Diantaranya yaitu elastisitas, sifat kimia dan fisikanya serta kemampuan dalam pengeringan. Saat ini bahan yang digunakan masih impor, namun Dwi mengharapkan ke depan dapat mengembangkan PMMA berbahan baku lokal.

Menurut Dwi, saat ini di Indonesia belum ada industri alat kesehatan maupun industri farmasi yang memproduksi bone filler dan bone cement. Hal ini disebabkan pihak industri menganggap market untuk kedua produk kesehatan ini kecil. “Jika ditilik lebih jauh, HA selain dapat digunakan sebagai bahan dasar bone filler, juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan pasta gigi untuk memperbaiki email gigi yang rusak, bahan anti-aging dalam kosmetik dan bahan pemurnian air”.

Pengembangan lainnya

“Indonesia memiliki sumberdaya pasir besi yang sangat berlimpah. Untuk itu kami di PTM, juga melakukan kegiatan pengembangan bone substitute berbahan dasar baja stainless tipe SS316L. Tipe ini dipilih karena ketahanannya yang tinggi terhadap karat. Pengembangannya saat ini sudah sampai pada tahap uji toksisitas dan uji inflamasi interaksi jaringan”, kata Dwi.

Melihat potensi pasar yang ada, BPPT telah mensosialisasikan bone filler dan bone cement pada industri dan pihak-pihak yang terkait di Indonesia. Sedangkan untuk bone substitute, lanjut Dwi, sudah ada industri di Surabaya yang memproduksinya. “Pada industri tersebut, selain memberikan problem solving mengenai bahan baku baja stainless yang selama ini masih harus impor, BPPT juga memberikan solusi teknologi alternatif dalam membuat produk alat kesehatan yakni dengan teknik pengecoran. Kelebihan dari teknik pengecoran dibanding teknik machining yang selama ini mereka terapkan adalah tidak menimbulkan limbah dalam jumlah besar”.

“Ke depan, kami akan mengembangkan implant skrup berbahan baku polimer yang mempunyai kelebihan dapat langsung ditanam ke dalam tubuh tanpa harus diambil kembali. Sebenarnya di luar negeri pun sudah ada produk komersial implant skrup yang berbahan baku titanium, hanya saja harganya sangat mahal. Jika kita mengembangkan sendiri implant skrup ini, tentunya harganya akan menjadi lebih terjangkau, sekaligus juga kita berkontribusi dalam memajukan teknologi alat kesehatan nasional”, ujar Dwi di akhir wawancara. (YRA/humas)